Suatu Kisah Dokter Dan Keluarga Pasiennya

Seorang dokter masuk rumah sakit dengan terburu-buru untuk melakukan operasi mendesak atas seorang anak. Beberapa saat ia mengangkat teleponnya dan nampak berbicara, lalu segera mengganti bajunya dan masuk ke ruang operasi.

Tiba-tiba ia didatangi oleh sepasang suami istri, orang tua anak itu, yang rupanya telah mondar-mandir di sekitar tempat itu beberapa waktu lamanya.

“Mengapa dokter begitu lambat datang? Tidakkan dokter tahu bahwa hidup anak saya dalam bahaya. Bagaimana tanggung jawab Anda sebagai seorang dokter?”

Dokter mendengarkan luapan kemarahan kedua orang tua itu, lalu berusaha tersenyum sambil berkata,”Saya mohon maaf. Saya sedang tidak di rumah sakit waktu ada panggilan operasi ini, lalu saya secepat mungkin berangkat untuk tiba di rumah sakit ini. Bapak ibu kiranya mohon untuk tenang, agar saya bisa maksimal melaksanakan tugas saya.”

“Tenang?” amarah ayah si anak itu naik,”Anda menyuruh saya tenang? Bagaimana bila Anda seperti kami yang mengalami hal ini. Bagaimana bila anak Anda meninggal, apa yang akan Anda sampaikan. Apakah juga bisa tenang?”

Dokter tersebut terdiam. Kemudian berkata,”Saya memahami. Saya memahami kondisi bapak. Kiranya semoga Tuhan memberkati anak bapak dan operasi yang saya lakukan.
Karena itu biarkanlah saya untuk segera menangani operasi anak bapak.”

Tanpa menunggu jawaban dari orang tua si anak, dokter segera bergegas ke perawat, memberikan sejumlah instruksi, dan segera masuk di ruangan operasi yang disediakan untuknya.

Operasi berjalan beberapa waktu lamanya.

Si Dokter keluar dari ruangan operasi, menemui ayah si anak, menyalaminya, demikian pula dengan ibu anak itu.

“Tuhan memberkati anak Anda, operasinya berhasil. Anak Anda selamat.”
Belum sempat ayah si anak menanggapi pernyataan si dokter, dokter itu berkata,”Bila ada yg ingin Bapak tanyakan atau sampaikan, segera sampaikan ke perawat ya pak.”

Lalu dokter itu bergegas pergi meninggalkan keduanya yg masih nampak gembira, heran, namun juga jengkel.

Saat mereka bertemu dengan perawat, disampaikanlah oleh bapak itu kepada perawat,”Mengapa sikap seorang dokter seperti itu. Begitu buru-buru dan tidak memberi perhatian
pada kita. Mungkin dia tidak punya anak, jadi tidak punya perasaan sebagai orang tua.”

Perawat melihat kepada bapak yg masih terlihat sedikit emosi itu.

Ingin ia menjawab, tapi air matanya lebih dulu menetes, dan dengan agak terbata ia berkata,”Kemarin malam … anaknya satu-satunya meninggal dunia, kecelakaan. Hari ini … saat ia mempersiapkan pemakaman, kami menelponnya … karena tidak ada dokter pengganti. Hanya dia dokter spesialis untuk anak Anda. Dan dia adalah dokter yang begitu peduli dengan nyawa pasiennya. Kini, dia terburu-buru untuk kembali ke pemakaman anaknya…. “

Bahan artikel & foto : www(dot)cardschat(dot)com, www(dot)sunnyskyz(dot)com

Baca juga :  

02-bhn-iklan-kabaringan-com

Sahabat Kabaringan, ternyata belajar internet itu mengasyikan... apa lagi bisa punya penghasilan 20 jutaan per bulan... sesuatu banget deh... Tapi gimana cara belajarnya?? Klik gambar di bawah ini solusinya.... & dapatkan Tutorial Gratis Internet Marketing selama 1,5 Tahun!